Orang sukses kebanyakan mendapatkan dari proses wiraswasta/memulai usaha sendiri, namun banyak hal yang mesti kita perhatikan karena pada saat kita memulai usaha ini tanpa perencanaan dan analisa maka yang ada cuman usaha yang memiliki usia 1 tahun lalu “wafat”.

Sebenarnya kalau kita sedikit jeli sangat banyak contoh perusahaan yang dimulai dari titik nol “0” lalu sekarang menjadi raksasa industri di era teknologi, ambil contoh Google : dimulai dari sebuah tempat yang cukup kecil dan dinahkodai 3 orang, Iphone : dimulai dari garasi rumah dan sekarang menjadi perusahaan raksasa, Facebook : hanya dari kamar kost lahir platform jejaring sosial yang saat ini banyak orang mulai “ketergantungan” terhadap platform ini bahkan saat mengalami down pada sistemnya terjadi kehebohan global.

Lalu apa yang bisa kita petik pelajaran dari perusahaan diatas tersebut? kalau kita mengamati Google dan Facebook serta banyak lagi yang lain memberikan fasilitas secara gratis….yup gratis tanpa persyaratan apapun, lalu untuk iPhone dengan beraninya membuat produk eksklusif dengan harga tinggi disaat yang lain berlomba lomba dengan harga murah.

Ada beberapa analisa dari skenario yang terjadi diatas :
1. Fasilitas gratis : perusahaan tipe ini tidak merencanakan untuk generate income melalui payment yang dilakukan orang yang terdaftar di fasilitas mereka, namun perusahaan tipe ini bertujuan untuk mengumpulkan massa sebanyak-banyaknya dan dari terkumpulnya massa ini maka bisa diolah untuk generate income (bahasan di artikel berikutnya)
2.Produk mahal : iPhone dengan beraninya menjual produk mereka dengan harga yang sangat tinggi, namun tentu saja apple melakukan ini semua karena sudah dilakukan beberapa analisa : pembeli produk ini memiliki segmen tersendiri yang pasar belum ada bermain didalamnya, pembeli produk ini orang yang membutuhkan “gengsi” untuk meningkatkan performa penampilan, pembeli produk ini memiliki karakter fanatik ke dalam suatu produk jadi pada saat ada produk baru muncul dari apple maka bisa dipastikan akan membelinya.

Dari beberapa analisa ringan diatas kita bisa ambil kesimpulan agar usaha yang kita bangun haruslah unik dan mengetahui kebutuhan pasar, namun yang tidak kalah penting ukur kekuatan anda sebelum memulai usaha, contoh : jika anda seorang programmer dan membangun usaha search engine atau platform media sosial maka mau tidak mau anda akan berhadapan dengan perusahaan sejenis yang sudah ada dan sudah menjadi “raksasa” maka yang terjadi akan banyak PR yang harus anda lakukan, maka saran saya sebisa mungkin membangun usaha yang belum ada didaerah anda atau dalam bahasa lain “start-up” bukan sekedar memiliki modal dan membangun usaha lalu menjadi “follower”.

Mungkin ini dulu yang bisa saya share terkait liku liku membangun usaha dan tentu akan saya bahas di artikel artikel berikutnya.

www.nufi.co.id